Pakaian_adat_Aceh-2023_07_07-13_42_59_86034dc4ae36b6a443407fe1c2fb1e38_960x640_thumb
MENGENAL BAJU ADAT ACEH
 
HALO SMEPPASSA JAWARA 👋 👋
– Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan budaya yang unik, termasuk dalam aspek pakaian adat yang mencerminkan sejarah, nilai-nilai, dan identitas masyarakat setempat.

 

Salah satu yang menarik untuk dijelajahi adalah baju adat Aceh, yang tidak hanya mencerminkan keindahan estetika tradisional, tetapi juga menggambarkan pengaruh Islam yang kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai baju adat Aceh. Simak hingga akhir, ya!

 

Baju Adat Suku Aceh

Dikutip dari buku Ensiklopedia Pakaian Nusantara, baju adat Aceh disebut dengan Ulee Balang. Pakaian ini dulunya hanya digunakan oleh para raja dan keluarganya, tetapi sekarang sering dipakai oleh pengantin.

Ulee Balang merupakan bahasa Melayu dari kata “hulubalang” yaitu golongan bangsawan dalam masyarakat Aceh yang memimpin sebuah kenegerian atau nanggroe, yaitu wilayah setingkat kabupaten dalam struktur pemerintahan saat ini.

 

Jenis Baju Adat Suku Aceh

Pakaian untuk pria disebut dengan Linto Baro, sedangkan pakaian untuk perempuan disebut dengan Daro Baro. Berikut ini adalah atribut atau perlengkapan masing-masing baju adat Aceh.

Linto Baro

Baju adat Aceh Linto Baro terdiri dari atribut dan perlengkapan berikut:

1. Baju Meukeusah

Baju Meukeusah, sebagai pakaian adat laki-laki Aceh, menyerupai beskap atau blazer dan telah digunakan sejak era kerajaan Samudra Pasai dan Perlak. Kerah baju Meukeusah meniru gaya kerah Cheongsam, menunjukkan pengaruh budaya China di Aceh.

Sulaman benang emas dengan motif bunga seperti seumanga, bungong geulima, seulupok, keupula, kundo, dan pucok reubong, menghiasi bagian leher, dada, dan ujung lengan. Motif sulaman memiliki beragam makna, termasuk pucok reubong yang mencerminkan kesuburan dan kebersamaan.

2. Celana Sileuweu

Celana Sileuweu, sebagai komponen bawahan dari busana adat Aceh Linto Baro, memiliki warna hitam dan terbuat dari kain katun.

Bentuknya meluas ke bagian bawah dengan hiasan sulaman emas di bagian tersebut, yang juga sering disebut sebagai celana Cekak Musang untuk pria.

Ketika dipakai, celana ini dipadukan dengan sarung songket sutra seperti Ija Lamgugap, Ija Krong, atau Ija Sangket, yang diikatkan di pinggang dengan panjang di atas lutut. Celana Sileuweu dikenal membawa makna ketegasan dan simbol kesultanan.

3. Kain Sarung

Bagian berikutnya dari pakaian adat Aceh, setelah sileuweu, adalah sarung songket sutera yang dinamakan ija lamgugap, juga dikenal sebagai ija sangket dan ija krong.

Sarung ini ditempatkan di pinggang dengan panjang maksimal 10 cm di atas lutut sebagai pelengkap sileuweu. Meskipun berperan sebagai pelengkap, ija lamgugap juga memiliki kemampuan untuk menambah kharisma bagi para laki-laki Aceh yang mengenakannya.

4. Meukeutop

Meukeutop adalah bagian dari pakaian adat Aceh yang merupakan penutup kepala. Kuatnya pengaruh Islam terlihat dalam Meukeutop, yang mirip dengan penutup kepala yang digunakan oleh sultan-sultan di Turki.

Bagian depan Meukeutop dibalut dengan kain tenun tradisional Aceh yang disebut Ija Teungkulok, yang dihiasi dengan sulaman emas atau perak dan salah satu ujungnya dibentuk mencuat ke atas.

Meukeutop juga memiliki lima warna dengan makna masing-masing: merah (kepahlawanan), kuning (kesultanan), hijau (agama Islam), hitam (ketegasan), dan putih (kesucian).

5. Rencong

Pakaian adat pria Aceh tak lengkap tanpa senjata tradisional yang dikenal sebagai Rencong. Rencong biasanya ditempatkan di lipatan sarung di sekitar pinggang dengan bagian gagang diatur sedemikian rupa hingga tampak.

Senjata ini memiliki makna sebagai simbol keberanian, identitas diri, dan ketangguhan bagi masyarakat Aceh.

Bentuk Rencong diyakini mencerminkan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” dalam agama Islam, dijadikan doa agar penggunaannya dilakukan dengan baik dan penuh keyakinan.

Rencong dibuat dari berbagai bahan, dimana versi milik sultan terbuat dari emas dengan ukiran ayat-ayat suci Al Quran, sementara versi yang digunakan oleh orang biasa terbuat dari kuningan, perak, besi putih, gading, atau kayu.

6. Siwah

Selain Rencong, senjata tradisional Aceh yang juga terkenal adalah Siwah. Meskipun memiliki kemiripan bentuk dengan Rencong, Siwah memiliki dimensi yang lebih panjang dan besar, serta menggunakan bahan pembuatan yang lebih mewah.

Gagang dan Sarung Siwah dapat terbuat dari kayu pilihan berkualitas tinggi, perak, atau bahkan emas, dan dihiasi dengan ukiran tradisional Aceh atau motif pucuk rebung. Mata Siwah biasanya terbuat dari besi bekas pedang kuno atau besi putih.

Siwah lebih sering dipergunakan dalam acara-acara besar karena, selain berfungsi sebagai senjata, juga menunjukkan kebesaran dan perannya sebagai perhiasan utama. Rencong, di sisi lain, lebih fokus pada simbol kepahlawanan.

Daro Baro

Baju adat Aceh Daro Baro terdiri dari atribut dan perlengkapan berikut:

1. Baju Kurung

Pakaian adat perempuan Aceh melibatkan penggunaan baju kurung yang terbuat dari kain tenun sutera dengan motif sulaman emas yang indah. Baju kurung ini mencerminkan perpaduan budaya Melayu, Islam, dan China.

Desain kerahnya menyerupai pakaian tradisional wanita Cina, sementara modelnya panjang hingga pinggul, memberikan penutupan tubuh untuk menjaga aurat.

Desain baju kurung ini juga mencerminkan pengaruh Islam dengan model yang longgar untuk tidak menampilkan lekuk tubuh wanita.

Motif sulaman benang emas dan penggunaan songket Aceh, ija krong songket, menambah kesan kemewahan. Keseluruhan baju kurung mencerminkan gabungan budaya Melayu, Arab, dan China.

2. Celana Cekak Musang

Cekak Musang adalah bagian bawah dari pakaian adat Aceh untuk wanita, terutama saat memakai Daro Baro. Desain Cekak Musang menyerupai celana Sileuweu pada pakaian adat Aceh pria, dengan potongan yang melebar ke bawah.

Celana panjang ini digunakan oleh pria dan wanita, memiliki gulungan sarung di sepanjang lutut, dan umumnya berwarna keemasan serta terbuat dari kain sutra.

Bagian pergelangan kakinya dihiasi dengan sulaman benang emas, memberikan sentuhan estetis pada desain celana. Wanita Aceh sering mengenakan Cekak Musang ketika menari tarian tradisional Aceh, termasuk tarian saman.

3. Sarung

Wanita Aceh melapisi celana Cekak Musang mereka dengan sarung untuk menyempurnakan penutupan pinggul, menjaga agar bentuk tubuh tidak terlihat.

Selain sebagai elemen pelengkap dan penutup pinggul, sarung juga menambah kesopanan dalam berpakaian.

Sarung ini terbuat dari kain songket, diikat dengan ikat pinggang perak atau emas, meliputi area dari pinggang hingga di bawah lutut. Ikat pinggang ini dikenal sebagai Taloe Ki leng Patah Sikureueng.

4. Patam Dhoe

Salah satu komponen kunci dalam pakaian adat Aceh adalah Patam Dhoe, sebuah mahkota unik yang berfungsi sebagai penutup kepala, dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai aurat dalam Islam. Sebelum mengenakan Patam Dhoe, wanita Aceh biasanya menggunakan jilbab.

Patam Dhoe memiliki bagian tengah yang mengandung kaligrafi dengan lafadz Allah dan Muhammad, dikelilingi oleh motif bunga dan bulatan yang dikenal sebagai Bungoh Kalimah.

Selain sebagai hiasan, mahkota ini juga berperan sebagai penanda bahwa wanita yang mengenakannya telah menikah, menunjukkan tanggung jawab suami terhadapnya.

5. Perhiasan

Selain Patam Dhoe sebagai mahkota, ada perhiasan lain seperti Subang Aceh (anting) dan Taloe Tokoe Bieung Meuih (kalung) yang terbuat dari emas dengan batu permata berbentuk hati dan kepiting.

Perhiasan lainnya melibatkan Keureusang (bros berbentuk hati), Piring Dhoe (perhiasan kepala), Untai Peniti (peniti emas), Simplah (perhiasan dada), dan Culok Ok (tusuk konde). Semua perhiasan ini menambah kemewahan dan keindahan pada pakaian adat Aceh.

Nah, itulah tadi penjelasan mengenai Ulee Balang atau baju adat Aceh. Baju adat Aceh banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Semoga bermanfaat!

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

26C57379-0626-44A2-9E0B-AE37B96D6A7D

Pakaian Adat Lambung

Hallo Teman – teman Smeppassa 👋, gimana hari ini? tetap semangat kan meskipun hari libur. Semoga selalu di berikan kesehatan selalu yaa.. Oh yaa.. membahas tentang budaya dari Nusa Tenggara Barat apakah kalian tahu dengan salah satu pakaian adat Lambung ini? belum kan, Ayo mari kita simak bersama. Di lansir dari : orami.co.id Lambung adalah

Baca selengkapnya...
IMG-20240110-WA0002

KEUNIKAN PROSESI PERNIKAHAN ADAT PALEMBANG SUMATERA SELATAN

    Hai sobat smeppassa pencinta dunia ilmu penuh makna. Apa kabar hari ini? Semoga kalian senantiasa sehat selalu ya. Seperti yang kalian tahu Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki adat istiadat begitu beragam, bisa kita cermati dalam berbagai hal seperti upacara adat maupun pernikahan adat.     Pada kesempatan kali ini kita akan

Baca selengkapnya...
IMG-20230704-WA0000

MANFAAT OLAHRAGA SECARA TERATUR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.  ⛑️Interarma Caritas ⛑️ Olahraga merupakan aktivitas fisik yang melibatkan gerakan tubuh dan membutuhkan usaha energi tertentu. Manfaat olahraga bagi kesehatan sangatlah banyak. Dengan segala manfaat kesehatan dan sosialnya, olahraga menjadi bagian penting dalam gaya hidup sehat. Dengan meluangkan waktu untuk berolahraga secara teratur, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan menjaga keseimbangan antara

Baca selengkapnya...
IMG_20240118_203959

GUNUNG ARGOPURO

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh   Haii SMEPPASSA JAWARA Siapa nih yang sudah mendaki ke Puncak Gunung Argopuro?  Gunung Argapura adalah sebuah gunung berapi kompleks yang terdapat di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Argapura mempunyai ketinggian setinggi 3.088 meter. Gunung Argapura merupakan bekas gunung berapi yang kini sudah tidak aktif lagi. Puncak Gunung Argapura adalah titik tertinggi di

Baca selengkapnya...